Kamis, 27 September 2012

ventilasi mekanik



Konsep dasar ventilasi mekanik


A. Pengertian

1.   Ventilasi mekanik dengan alatnya yang disebut ventilator adalah suatu alat bantu mekanik yang berfungsi memberikan bantuan nafas pasien dengan cara memberikan tekanan udara positif pada paru-paru melalui jalan nafas buatan.  Ventilasi mekanik merupakan peralatan “wajib” pada unit perawatan intensif atau ICU. ( Corwin, Elizabeth J, 2001)
2.   Ventilasi mekanik adalah suatu alat bantu mekanik yang berfungsi memberikan bantuan nafas pasien dengan cara memberikan tekanan udara positif pada paru-paru melalui jalan nafas buatanadalah suatu alat yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh proses  ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi ( Brunner dan Suddarth, 2002).
3.   Ventilasi mekanik (Ventilator) adalah suatu system alat bantuan hidup yang dirancang untuk menggantikan atau menunjang fungsi pernapasan yang normal. Tujuan utama pemberian dukungan ventilator mekanik adalah untuk mengembalikan fungsi normal pertukaran udara dan memperbaiki fungsi pernapasan kembali ke keadaan normal. (Bambang Setiyohadi, 2006)


B.  Tujuan pemasangan ventilasi mekanik
1.   Mengurangi kerja pernapasan
2.   Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien
3.   Pemberian MV yang akurat
4.   Mengatasi ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi
5.   Menjamin hantaran O2 ke jaringan adekuat





C.  Indikasi Pemasangan Ventilasi Mekanik

1.   Pasien dengan gagal nafas.
Pasien dengan distres pernafasan gagal nafas, henti nafas (apnu) maupun hipoksemia yang tidak teratasi dengan pemberian oksigen merupakan indikasi ventilasi mekanik. Idealnya pasien telah mendapat intubasi dan pemasangan ventilasi mekanik sebelum terjadi gagal nafas yang sebenarnya. Distres pernafasan disebabkan ketidakadekuatan ventilasi dan atau oksigenasi. Prosesnya dapat berupa kerusakan paru (seperti pada pneumonia) maupun karena kelemahan otot pernafasan dada (kegagalan memompa udara karena distrofi otot).
2.      Insufisiensi jantung.
Tidak semua pasien dengan ventilasi mekanik memiliki kelainan pernafasan primer. Pada pasien dengan syok kardiogenik dan CHF, peningkatan kebutuhan aliran darah pada sistem pernafasan (sebagai akibat peningkatan kerja nafas dan konsumsi oksigen) dapat mengakibatkan jantung kolaps. Pemberian ventilasi mekanik untuk mengurangi beban kerja sistem pernafasan sehingga beban kerja jantung juga berkurang.
3.      Disfungsi neurologist
Pasien dengan GCS 8 atau kurang yang beresiko mengalami apnu berulang juga mendapatkan ventilasi mekanik. Selain itu ventilasi mekanik juga berfungsi untuk menjaga jalan nafas pasien serta memungkinkan pemberian hiperventilasi pada klien dengan peningkatan tekanan intra cranial.
4.      Tindakan operasi
Tindakan operasi yang membutuhkan penggunaan anestesi dan sedative sangat terbantu dengan keberadaan alat ini. Resiko terjadinya gagal napas selama operasi akibat pengaruh obat sedative sudah bisa tertangani dengan keberadaan ventilasi mekanik.




D.    Klasifikasi
1.      Ventilasi mekanik diklasifikasikan berdasarkan cara alat tersebut mendukung ventilasi, dua kategori umum adalah ventilator tekanan negatif dan tekanan positif.
a)      Ventilator Tekanan Negatif
Ventilator tekanan negatif mengeluarkan tekanan negatif pada dada eksternal. Dengan mengurangi tekanan intratoraks selama inspirasi memungkinkan udara mengalir ke dalam paru-paru sehingga memenuhi volumenya. Ventilator jenis ini digunakan terutama pada gagal nafas kronik yang berhubungn dengan kondisi neurovaskular seperti poliomyelitis, distrofi muscular, sklerosisi lateral amiotrifik dan miastenia gravis. Saat ini sudah jarang di pergunakan lagi karena tidak bias melawan resistensi dan conplience paru, disamping itu  ventla tor tekanan negative ini digunakan pada awal – awal penggunaan ventilator.
b)      Ventilator Tekanan Positif
Ventilator tekanan positif menggembungkan paru-paru dengan mengeluarkan tekanan positif pada jalan nafas dengan demikian mendorong alveoli untuk mengembang selama inspirasi. Pada ventilator jenis ini diperlukan intubasi endotrakeal atau trakeostomi. Ventilator ini secara luas digunakan pada klien dengan penyakit paru primer. Terdapat tiga jenis ventilator tekanan positif yaitu tekanan bersiklus, waktu bersiklus dan volume bersiklus.

2. Berdasarkan mekanisme kerjanya ventilator mekanik tekanan positif dapat dibagi menjadi empat jenis yaitu : Volume Cycled, Pressure Cycled, Time Cycled, Flow Cycle.
1)      Volume Cycled Ventilator.
      Volume cycled merupakan jenis ventilator yang paling sering digunakan di ruangan unit perawatan kritis. Perinsip dasar ventilator ini adalah cyclusnya berdasarkan volume. Mesin berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai volume yang ditentukan. Keuntungan volume cycled ventilator adalah perubahan pada komplain paru pasien tetap memberikan volume tidal yang konsisten. Jenis ventilator ini banyak digunakan bagi pasien dewasa dengan gangguan paru secara umum. Akan tetapi jenis ini tidak dianjurkan bagi pasien dengan gangguan pernapasan yang diakibatkan penyempitan lapang paru (atelektasis, edema paru). Hal ini dikarenakan pada volume cycled pemberian tekanan pada paru-paru tidak terkontrol, sehingga dikhawatirkan jika tekanannya berlebih maka akan terjadi volutrauma. Sedangkan penggunaan pada bayi tidak dianjurkan, karena alveoli bayi masih sangat rentan terhadap tekanan, sehingga memiliki resiko tinggi untuk terjadinya volutrauma.
2)      Pressure Cycled Ventilator
            Perinsip dasar ventilator type ini adalah cyclusnya menggunakan tekanan. Mesin berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai tekanan yang telah ditentukan. Pada titik tekanan ini, katup inspirasi tertutup dan ekspirasi terjadi dengan pasif. Kerugian pada type ini bila ada perubahan komplain paru, maka volume udara yang diberikan juga berubah. Sehingga pada pasien yang setatus parunya tidak stabil, penggunaan ventilator tipe ini tidak dianjurkan, sedangkan pada pasien anak-anak atau dewasa mengalami gangguan pada luas lapang paru (atelektasis, edema paru) jenis ini sangat dianjurkan.
3)      Time Cycled Ventilator
Prinsip kerja dari ventilator type ini adalah cyclusnya berdasarkan waktu ekspirasi atau waktu inspirasi yang telah ditentukan. Waktu inspirasi ditentukan oleh waktu dan kecepatan inspirasi (jumlah napas permenit). Normal ratio I : E (inspirasi : ekspirasi ) 1 : 2.
4)   Berbasis aliran (Flow Cycle)
Memberikan napas/ menghantarkan oksigen berdasarkan kecepatan aliran yang sudah diset.
           
D. Kriteria Pemasangan Ventilasi Mekanik
Menurut Pontopidan (2003), seseorang perlu mendapat bantuan ventilasi mekanik (ventilator) bila :
a)      Frekuensi napas lebih dari 35 kali per menit.
b)      Hasil analisa gas darah dengan O2 masker PaO2 kurang dari 70 mmHg.
c)      PaCO2 lebih dari 60 mmHg
d)     AaDO2 dengan O2 100 % hasilnya lebih dari 350 mmHg.
e)      Vital capasity kurang dari 15 ml / kg BB.

E. Modus operasional ventilasi mekanik
 Modus operasional ventilasi mekanik terdiri dari :
a.    Controlled Ventilation
Ventilator mengontrol volume dan frekuensi pernafasan. Pemberian volume dan frekuensi pernapasan diambil alih oleh ventilator. Ventilator tipe ini meningkatkan kerja pernafasan klien.
b.    Assist/Control
Ventilator jenis ini dapat mengontrol ventilasi, volume tidal dan kecepatan. Bila klien gagal untuk ventilasi, maka ventilator secara otomatis. Ventilator ini diatur berdasarkan atas frekuensi pernafasan yang spontan dari klien, biasanya digunakan pada tahap pertama pemakaian ventilator.
c.   Synchronized Intermitten Mandatory Ventilation (SIMV)
SIMV dapat digunakan untuk ventilasi dengan tekanan udara rendah, otot tidak begitu lelah dan efek barotrauma minimal. Pemberian gas melalui nafas spontan biasanya tergantung pada aktivasi klien. Indikasi pada pernafasan spontan tapi tidal volume dan/atau frekuensi nafas kurang adekuat.
  d.  Continious Positive Airway Pressure. (CPAP)
Pada mode ini mesin hanya memberikan tekanan positif dan diberikan pada pasien yang sudah bisa bernafas dengan adekuat. Tujuan pemberian mode ini adalah untuk mencegah atelektasis dan melatih otot-otot pernafasan sebelum pasien dilepas dari ventilator.

E.     Setting ventilator
Untuk menentukan modus operasional ventilator terdapat beberapa parameter yang diperlukan untuk pengaturan pada penggunaan volume cycle ventilator, yaitu :
a.    Frekuensi pernafasan permenit
Frekwensi napas adalah jumlah pernapasan yang dilakukan ventilator dalam satu menit. Setting normal pada pasien dewasa adalah 10-20 x/mnt. Parameter alarm RR diseting diatas dan dibawah nilai RR yang diset. Misalnya set RR sebesar 10x/menit, maka setingan alarm sebaliknya diatas 12x/menit dan dibawah 8x/menit. Sehingga cepat mendeteksi terjadinya hiperventilasi atau hipoventilasi.
b.    Tidal volume
Volume tidal merupakan jumlah gas yang dihantarkan oleh ventilator ke pasien setiap kali bernapas. Umumnya disetting antara 8 - 10 cc/kgBB, tergantung dari compliance, resistance, dan jenis kelainan paru. Pasien dengan paru normal mampu mentolerir volume tidal 10-15 cc/kgBB, sedangkan untuk pasien PPOK cukup dengan 5-8 cc/kgBB. Parameter alarm tidal volume diseting diatas dan dibawah nilai yang kita seting. Monitoring volume tidal sangat perlu jika pasien menggunakan time cycled. 
c.    Konsentrasi oksigen (FiO2)
FiO2 adalah jumlah kandungan oksigen dalam udara inspirasi yang diberikan oleh ventilator ke pasien. Konsentrasinya berkisar 21-100%. Settingan FiO2 pada awal pemasangan ventilator direkomendasikan sebesar 100%. Untuk memenuhi kebutuhan FiO2 yang sebenarnya, 15 menit pertama setelah pemasangan ventilator dilakukan pemeriksaan analisa gas darah. Berdasarkan pemeriksaan AGD tersebut maka dapat dilakukan penghitungan FiO2 yang tepat bagi pasien.
d.   Rasio inspirasi : ekspirasi
Rumus Rasio inspirasi : Ekspirasi
Waktu inspirasi + waktu istirahat
Waktu ekspirasi
Keterangan :
1)      Waktu inspirasi merupakan waktu yang diperlukan untuk memberikan volume tidal atau mempertahankan tekanan.
2)      Waktu istirahat merupakan periode diantara waktu inspirasi dengan ekspirasi
3)      Waktu ekspirasi merupakan waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan udara pernapasan
4)      Rasio inspirasi : ekspirasi biasanya disetiing 1:2 yang merupakan nilai normal fisiologis inspirasi dan ekspirasi. Akan tetapi terkadang diperlukan fase inspirasi yang sama atau lebih lama dibandingkan ekspirasi untuk menaikan PaO2.
e.    Limit pressure / inspiration pressure
Pressure limit berfungsi untuk mengatur jumlah tekanan dari ventilator volume cycled. Tekanan terlalu tinggi dapat menyebabkan barotrauma.
f.     Flow rate/peak flow
Flow rate merupakan kecepatan ventilator dalam memberikan volume tidal pernapasan yang telah disetting permenitnya.
g.    Sensitifity/trigger
Sensitifity berfungsi untuk menentukan seberapa besar usaha yang diperlukan pasien dalam memulai inspirasi dai ventilator. Pressure sensitivity memiliki nilai sensivitas antara 2 sampai -20 cmH2O, sedangkan untuk flow sensitivity adalah antara 2-20 L/menit. Semakin tinggi nilai pressure sentivity maka semakin mudah seseorang melakukan pernapasan. Kondisi ini biasanya digunakan pada pasien yang diharapkan untuk memulai bernapas spontan, dimana sensitivitas ventilator disetting -2 cmH2O. Sebaliknya semakin rendah pressure sensitivity maka semakin susah atau berat pasien untuk bernapas spontan. Settingan ini biasanya diterapkan pada pasien yang tidak diharapkan untuk bernaps spontan.
h.    Alarm
Ventilator digunakan untuk mendukung hidup. Sistem alarm perlu untuk mewaspadakan perawat tentang adanya masalah. Alarm tekanan rendah menandakan adanya pemutusan dari pasien (ventilator terlepas dari pasien), sedangkan alarm tekanan tinggi menandakan adanya peningkatan tekanan, misalnya pasien batuk, cubing tertekuk, terjadi fighting, dan lain-lain. Alarm volume rendah menandakan kebocoran. Alarm jangan pernah diabaikan tidak dianggap dan harus dipasang dalam kondisi siap.
i.   Positive end respiratory pressure (PEEP)
PEEP bekerja dengan cara mempertahankan tekanan positif pada alveoli diakhir ekspirasi. PEEP mampu meningkatkan kapasitas residu fungsional paru dan sangat penting untuk meningkatkan penyerapan O2 oleh kapiler paru.

F.     Komplikasi
Ventilator adalah alat untuk membantu pernafasan pasien, tapi bila perawatannya tidak tepat bisa, menimbulkan komplikasi seperti:
  1. Pada paru
a.       Baro trauma: tension pneumothorax, empisema sub cutis, emboli udara vaskuler.
b.      Atelektasis/kolaps alveoli diffuse
c.       Infeksi paru
d.      Keracunan oksigen
e.       Jalan nafas buatan: king-king (tertekuk), terekstubasi, tersumbat.
f.       Aspirasi cairan lambung
g.      Tidak berfungsinya penggunaan ventilator
h.      Kerusakan jalan nafas bagian atas

2.   Pada sistem kardiovaskuler
Hipotensi, menurunya cardiac output dikarenakan menurunnya aliran balik vena akibat meningkatnya tekanan intra thorax pada pemberian ventilasi mekanik dengan tekanan tinggi.
3.  Pada sistem saraf pusat
a.    Vasokonstriksi cerebral
Terjadi karena penurunan tekanan CO2 arteri (PaCO2) dibawah normal akibat dari hiperventilasi.
b.   Oedema cerebral
Terjadi karena peningkatan tekanan CO2 arteri diatas normal akibat dari hipoventilasi.
c.    Peningkatan tekanan intra kranial
d.  Gangguan kesadaran
e.  Gangguan tidur.
4.  Pada sistem gastrointestinal
a. Distensi lambung, illeus
b.Perdarahan lambung

5.      Gangguan lainnya
a.    Obstruksi jalan nafas
b.   Hipertensi
c.     Tension pneumotoraks
d.    Atelektase
e.     Infeksi pulmonal
f.     Kelainan fungsi gastrointestinal ; dilatasi lambung, perdarahan
g.    Gastrointestinal.
h.    Kelainan fungsi ginjal
i.      Kelainan fungsi susunan saraf pusat













TEORI ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN VENTILASI MEKANIK


A. Pengkajian

1. pengkajian persistem
Perawat mempunyai peranan penting mengkaji status pasien dan fungsi ventilator. Dalam mengkaji klien, perawat mengevaluasi hal-hal berikut :
·      Biodata klien
·      Riwayat penyakit atau riwayat keperawatan
·      Tanda-tanda vital
·      Bukti adanya hipoksia
·      Frekuensi dan pola pernafasan
·      Volume tidal, ventilasi semenit, kapasitas vital kuat
·      Kebutuhan pengisapan
·      Upaya ventilasi spontan klien
·      Pemerikasaan system respirasi
a)      Gerakan napas sesuai dengan irama ventilator.
b)      Keadaan ekspansi dada kanan dan kiri.
c)      Suara napas : Ronchi, wheezing, vesikuler
d)     Gerakan cuping hidung, dan penggunaaan otot bantu tambahan
e)      Secret : jumlah, konsistensi, warna, bau
f)       Humidifier, kehangtan, dan batas air
g)      Keadaan tubbing/ circutit ventilator
h)      Hasil analisa gas darah terakhir, SPO2
i)        Hasil poto torax terakhir.
·      Sistem kardivaskuler
a)      Perfusi (sianosis)
b)      Berkeringat banyak
c)      Gangguan irama jantung
d)     Perubahan tanda vital
e)      Gangguan hemodinamik yang diakibatkan :
Setting ventilator dan hipoksia
·      Sistem neurologi
a)      Tingkat kesadaran
b)      Nyeri kepala
c)      Rasa ngantuk
d)     Gelisah
e)      Kekacauan mental
·      Sistem urogenital
a)      Penurunan produksi urine (berkurangnya urine menunjukkan adanya gangguan perfusi ginjal).
·      Status cairan dan nutrisi
a.)    Adanya gangguan statrus nutrisi dan cairan akan memperberat keadaan seperti cairan yang berlebihan dan albumin yang rendah akan memperberat oedema paru.
·      Status psikososial
a)      Depresi mental yang dimanifestasikan berupa kebingungan, gangguan orientasi, merasa terisolasi, kecemasan dan ketakutan akan kematian.

2. Pengkajian Peralatan
Ventilator juga harus dikaji untuk memastikan bahwa ventilator pengaturannya telah dibuat dengan tepat. Dalam memantau ventilator, perawat harus memperhatikan hal-hal berikut :
·             Jenis ventilator
·             Cara pengendalain (Controlled, Assist Control, dll)
·             Pengaturan volume tidal dan frekunsi
·             Pengaturan FIO2 (fraksi oksigen yang diinspirasi)
·             Tekanan inspirasi yang dicapai dan batasan tekanan.
·             Adanya air dalam selang,terlepas sambungan atau terlipatnya selang.

3.Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan Diagnostik yang perlu dilakukan pada klien dengan ventilasi mekanik yaitu :
Ø  Pemeriksaan fungsi paru
Ø  Analisa gas darah arteri
Ø  Kapasitas vital paru
Ø  Kapasitas vital kuat
Ø  Volume tidal
Ø  Inspirasi negative kuat
Ø  Ventilasi semenit
Ø  Tekanan inspirasi
Ø  Volume ekspirasi kuat
Ø  Aliran-volume
Ø  Sinar X dada
Ø  Status nutrisi / elaktrolit.

1.      Diagnosa Keperawatan
1)         Tidak efektifnya bersihan jalan napas berhubungan dengan intubasi, ventilasi, proses penyakit, dan kelelahan
Tujuan :
Jalan napas pasien terpelihara baik

Intervensi :
Ø  Auskultasi sura napas setiap 2-4 jam
Ø  Lakukan suction apabila terdapat secret
Ø  Pantau humidifier ventilator dan temperature (950-1000 F)
Ø  Pantau status hidrasi pada pasien
Ø  Pantau tekanan jalan napas pada ventilator
Ø  Lakukan fisioterapi dada, ubah posisi pasien setiap 2-4 jam
Ø  Berikan bronchodilator (kolaborasi dengan dokter)

2)         Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan pengembangan paru yang belum efektif
Tujuan :
Ø  PaO2 = 80 - 100 mmHg
Ø  PaCO2 dalam batas normal
Ø  PH darah arteri dalam batas normal

Intervensi :
Ø  Periksa analisa gas darah 10-30 menit setelah perubahan modus ventilator
Ø  Pantau analisa gas darah selama proses penyapihan
Ø  Observasi posisi pasien yang mengakibatkan penurunan PaO2 atau pernapasan tidak nyaman
Ø  Pantau tanda dan gejala hipoksia dan hiperkapnia

3)         Gangguan pola napas berhubungan dengan gangguan ventilasi atau sumbatan pada ETT
Tujuan :
Ø  Ventilator berfungsi baik
Ø  Sumbatan pada ETT tidak ada
Intervensi :
Ø  Periksa ventilator setiap 2 jam
Ø  Evaluasi semua fungsi alarm dan pastikan sebelum pemakaian
Ø  Pastikan bahwa resuscitator secara manual selalu tersedia disamping tempat tidur
Ø  Lakukan pemantauan untuk mengetahui bahwa tidak ada sambungan selang yang terlepas, tertekuk, dan tersumbat
Ø  Evaluasi kebocoran balon ETT
Ø  Pasang guedel untuk mencegah pasien menggigit ETT
Ø  Kaji fiksasi ETT, suara paru kiri dan kanan
Ø  Atur pasien pada posisi yang nyaman sehingga ETT tidak menganggu
Ø  Jelaskan pada pasien untuk tidak mencabut ETT, jika pasien orientasinya tidak bagus dapat diberikan ikatan pada tangannya
Ø  Kaji letak ETT yang tepat pada photo rontgen dan auskultasi bunyi paru

4)         Ketidakmampuan mempertahankan ventilasi spontan berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan, ARDS, gangguan metabolik
Tujuan:
Setelah intervensi keperawatan pasien mampu memperthankan ventilasi spontan dengan Kriteria hasil :
Ø  RR = 12-16 x/ menit
Ø  Tidal volume cukup
Ø  Tidak mengguanakan otot bantu napas
Ø  Tidak ada sianosis
Ø  Saturasi O2 95-100%

Intervensi :
Ø  Monitor otot-otot pernapasan
Ø  Set dan aplikasikan mesin ventilator
Ø  Jelaskan pada pasien atau keluarga alasan penggunaan mesin ventilator
Ø  Monitor setting ventilator secara kontinyu
Ø  Pastikan system alarm dalam kondisi “ON”
Ø  Cek keberadaan konektor-konektor
Ø  Jaga humidifikasi
Ø  Monitor saturasi oksigen
Ø  Monitor tanda-tanda sianotik
Ø  Monitor AGD
Ø  Observasi efek penggunaan mesin ventilator

5)         Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan edema paru, ARDS
Tujuan :
Setelah intervensi keperawatn, pertukaran gas optimal dengan Kriteria hasil :
Ø  RR= 12-16 x/menit
Ø  PaO2 = 95-100%
Ø  PCO2= 35-45 mmHg
Ø  Tidak  sianosis
Ø  Ventilasi alveolar meningkat

Intervensi :
Ø  Manajemen airway
Ø  Manajemen cairan
Ø  Ventilasi mekanik
Ø  Manajemen asam basa
Ø  Monitor respirasi
Ø  Kolaborasi antibiotic

6)         Nyeri akut berhubungan dengan agent injury fisik
Tujuan :
Setelah intervensi keperawatan nyeri hilang atau berkurang dengan Kriteria hasil :
Ø  Melaporkan penurunan rasa nyeri atau ketidaknyamanan
Ø  Mampu mengidentifikasi cara-cara untuk mengatasi nyeri
Ø  Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai dengan kebutuhan individu
Ø  Tanda-tanda vital dalam batas normal

Intervensi :
Manajemen nyeri :
Ø  Kaji adanya nyeri, bantu pasien menidentifikasi tingkat nyeri
Ø  Evaluasi peningkatan iritabilitas, tegangan otot, gelisah, dan pantau perubahan tanda-tanda vital.
Ø  Berikan tindakan peningkatan rasa nyaman dengan perubahan posisi, massage, kompres hangat/ dingin sesuai toleransi pasien
Ø  Dorong penggunaan teknik relaksasi atau latihan napas dalam bila mungkin
Kolaborasi pembertian analgetik :
Ø  Identifikasi nyeri sebelum pengobatan
Ø  Cek riwayat alergi
Ø  Tentukan pilihan analgetik secara tepat berdasarkan keparahan nyeri
Ø  Monitor tanda vital sebelum dan setelah pengobatan
Ø  Berikan obat dengan prinsip 5 benar
Ø  Monitor reaksi dan efek samping obat
Ø  Dokumentasikan

7)         Cemas berhubungan dengan penyakit kritis, takut tehadap ancaman kematian
Tujuan :
Setelah intervensi keperawatan cemas dapat berkurang atau hilang dengan Kriteria hasil :
Ø  Mampu mengekspresikan kecemasan
Ø  Tidak gelisah
Ø  Kooperatif
Intervensi :
Ø  Lakukan komunikasi terapeutik
Ø  Dorong pasien agar mampu mengekespresikan perasaanya
Ø  Berikan sentuhan
Ø  Berikan support mental
Ø  Berikan kesempatan kunjungan keluarga pada saat-saat tertentu
Ø  Berikan informasi realistis pada tingkatan pemahaman klien
8)         Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan terpasang alat intubasi
Tujuan :
Setelah intervensi keperawatan Pasien mampu mempertahankan komunikasi non verbal menggunakan metode al;ternatif dengan Kriteria hasil :
Ø  Mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat
Ø  Mampu berkomunikasi secara tertulis
Ø  Mampu berkomunikasi dengan gambar
Ø  Pasien mengerti tentang pesan yang disampaikan
Ø  Dapat menangkap pesan secara langsung

Intervensi :
Ø  Sediakan metode komunikasi alternative
Ø  Libatkan keluarga bila mungkin
Ø  Lakukan komunikasi dengan lambat dan suara yang jelas
Ø  Gunakan kalimat yang singkat
Ø  Berikan support system untuk mengatasi ketidakmampuan
Ø  Berikan reinforcemen positif pada pasien dan yakinkan bahwa suara akan kembali bila alat dilepas

9)         Resiko infeksi berhubungan dengan pemasangan alat-alat invasive
Tujuan  :
Setelah intervensi keperawatan infeksi atau tanda-tanda infeksi tidak terjadi dengan Kriteria hasil :
Ø  Tidak ada tanda-tanda infeksi
Ø  Tanda vital dalam  batas normal
Ø  Hasil lab dalam batas normal



Intervensi :
Ø  Monitor tanda infeksi local dan sistemik
Ø  Monitor kulit membran mukosa
Ø  Monitor nilai lab terutama angka leukosit
Ø  Monitor tanda vital
Ø  Terapkan prinsip steril
Ø  Cuci tangan sebelum ke klien

10)     Resiko cedera berhubunmgan dengan ventilasi mekanis, selang endotracheal, ansietas, stress.
Tujuan :
Setelah intervensi keperawatan Pasien bebas dari cidera selama ventilasi mekanik dengan Kriteria hasil :
Ø  Tidak terjadi iritasi pada hidung maupun jalan napas
Ø  Tidak terjadi barotrauma
Ø  Babas dari jatuh
Ø  Bebas dari abrasi, laserasi kulit

Intervensi :
Ø  Monitor ventilator terhadap peningkatan secara tajam
Ø  Yakinkan napas pasien sesuai dengan irama ventilator
Ø  Mencegah terjadinya fighting kalau perlu kolaborasi dengan dokter untuk pemberian sedasi
Ø  Observasi tanda dan gejala barotrauma
Ø  Lakukan penghisapan lendir dengan hati-hati dan gunakan kateter suction yang lunak dan ujungnya tidak tajam
Ø  Lakukan fiksasi bila pasien gelisah
Ø  Atur posisi selang/ tubing ventilator dengan cepat




Daftar Pustaka




Carpenito, Lynda Juall (2000), Buku saku Diagnosa Keperawatan,  Edisi 8, EGC, Jakarta

Corwin, Elizabeth J, (2001), Buku saku Patofisiologi, Edisi bahasa Indonesia, EGC, Jakarta

Doengoes, E. Marilyn (1989), Nursing Care Plans, Second Edition, FA Davis, Philadelphia

Suprihatin, Titin (2000), Bahan Kuliah Keperawatan Gawat Darurat PSIK Angkatan I, Universitas Airlangga, Surabaya


























 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar